JEPANG – Ada banyak yang saya lihat. Soal kemajuan suatu bangsa, kedisiplinan, kebersihan, kenyamanan, kepedulian, keamanan, keramahan, dan berbagai hal yang tak bisa diceritakan satu persatu. Saya juga bisa berinteraksi langsung dengan komunitas Muslim dari berbagai negara. Kamis,(24/05) lalu.

Namun, di atas itu semua, yang paling membahagiakan adalah saya bisa menyaksikan bagaimana umat Islam melaksanakan kewajibannya dalam serba keterbatasan tapi dengan penuh semangat.

Saya juga melihat secara langsung berbagai alternatif praktik ber-Islam yang sebelumnya hanya saya baca melalui literatur Hingga mencari pendapat-pendapat dari imam-imam mazhab yang memberikan alternatif solusi dalam situasi khusus seperti yang mereka alami.

Ramadan tahun lalu saya harus belajar bersama para buruh migran Indonesia di Macau dan di Hongkong, untuk melihat langsung apa kendala dan tantangan menjadi Muslim di negara non-Muslim. Ada banyak yang bisa saya petik dari perjalanan tahun lalu.

Usta. Syarif Hade sebagai perwakilan DAI Ambassador Corps Dai Dompet Dhuafa (CORDOFA) di Jepang, “Tahun ini kembali saya harus belajar dengan mahasiswa-mahasiswa hebat yang mendapat beasiswa baik dari pemerintah kita maupun pemerintah Jepang untuk menggeluti berbagai bidang yang unik di S1, S2, dan S3 di kampus-kampus terkemuka di sini. Bahkan, ada sebagian yang sudah menjadi dosen dan asisten profesor di sini”.

Memang terasa ada yang kontras antara tahun ini dan tahun lalu, tapi hidup mengajarkan kepada kita untuk selalu siap menghadapi berbagai situasi. Dan, selalu ada hikmah di balik kejutan-kejutan situasi itu.

“Alhamdulillah sejauh ini saya bersyukur dengan semua perjalanan nyantri di negara orang, meskipun harus jauh dari keluarga, menahan rindu dan terkadang harus menyeka air mata”, tutup Ustad Syarif Hade. (adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here