JAKARTA – Komunitas Muslim di Korea Selatan kaya dengan keberagaman latar belakang etnis dan budaya. Komunitas Muslim di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Budha ini, Sementara orang-orang asli Korea yang Muslim, kebanyakan adalah keturunan dari para mualaf yang masuk Islam saat berlangsung perang Korea. Sebagai kelompok masyarakat minoritas, masjid menjadi tempat penting bagi Muslim Korea Selatan untuk saling bertemu dan bersilahturahim.

Masjid juga menjadi pusat informasi bagi warga Korea yang ingin belajar Islam. Masjid-masjid di Korea Selatan menyediakan bahan-bahan bacaan dan audio yang diberikan gratis buat mereka yang ingin mempelajari Islam. Sepuluh tahun yang lalu, belum banyak masjid di negara ini. Tapi sekarang, masjid-masjid sudah banyak tersebar hampir di seluruh kota besar di Korea Selatan. Salah satu  adalah Masjid Al – Ikhlas  yang berlokasi di Uijeongbu dong, Korea Selatan. Senin, (21/05).

Banyak wajah – wajah Arab, India, Pakistan, Bangladesh serta negara pecahan Rusia seperti Uzbekistan dan Tajikistan ikut serta dalam buka bersama saat libur di masjid al-Ikhlas Yongin Kawasan Gyeonggi Korea selatan. Mereka lebih memilih tidur di Masjid dan mengikuti kegiatan – kegiatan keislaman sepanjang hari dibandingkan berdiam diri di mes – mes mereka di pabrik,” kata Haseeb Ahmad Khan, pengusaha asal Pakistan yang sudah 10 tahun tinggal di Korea Selatan.

Saat jamaah sudah berkumpul dan bersiap untuk berbuka puasa, Dai Ambassador Corps Dompet Dhuafa untuk Korea Selatan di Masjid al- Ikhlas Yongin yaitu Ustadz Alnof Dinar langsung mengambil inisiatif menyampaikan taushiyah singkat dalam tiga bahasa yaitu Arab, Indonesia dengan selingan bahasa Inggris.

“Saya selalu merasakan kehangatan kekeluargaan disini. Saya  merasa nyaman dan merasa berada di keluarga sendiri. Bagi saya, makan bersama di dalam nampan menjadi kesan yang sangat sulit saya lupakan seperti yang dilakukan orang – orang Indonesia di Korea . saat makan itu saya bisa berdialog dengan muslim dari Indonesia dan bangsa lain berasa dekat dan bersahabat diantara satu sama lain.” Ungkap Badri ( 35 tahun ) Seorang pekerja asal dari Kamboja.

“Sejak 2013 Dompet Dhuafa melalui Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) mengirimkan dai ke luar negeri secara berturut – turut . Dalam menunjang pengetahuan dan kemampuan sebelum penugasan, setiap dai mendapatkan pembekalan materi yang mencakup pembahasan ZISWAF, pendekatan psiko sosial, gerakan filantropi global, fiqh ikhtilaf, diplomasi kemanusiaan serta kunjungan ke program pemberdayaan Dompet Dhufa. Program Dai Ambassador Dompet Dhuafa bermitra dengan berbagai institusi dan komunitas, di antaranya KBRI dan KJRI, NGO lokal, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), dan kantor perwakilan Dompet Dhuafa di luar negeri”, ujar Ustad. Altof Dinar.

Selama penugasan para dai akan melaksanakan kajian keislaman, imam shalat tarawih hingga shalat Ied, pembinaan mualaf, syiar zakat, pengembangan jaringan dakwah internasional, menginisiasi Islamic Learning Center di berbagai negara, dan tentu sebagai diplomat kemanusiaan untuk masyarakat dunia atas nama Indonesia. Dengan 25 tahun membentang kebaikan menjadi gerakan yang tumbuh dari tahun ke tahun dalam membangun kesejahteraan masyarakat miskin maupun kemanusiaan di seluruh Indonesia ataupun belahan dunia. (adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here