JAKARTA – Target market dunia properti bagi generasi milenial tampaknya belum sesuai harapan. Stigma yang terjadi bahwa generasi milenial akhir-akhir ini enggan beli properti. Hal ini menjadi pokok bahasan di acara Ngobrol Properti (NGOPI) yang diselenggarakan di 57 Promenade, Grha Niaga Thamrin, Jakarta. Kamis, (26/4).

Bertajuk ‘Kapan Beli Properti’ acara tersebut mempertemukan generasi milenial dengan para pelaku industri di bidang properti, perbankan, dan fintech serta perwakilan dari perumus kebijakan.

Selain dihadiri oleh Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P Roesli dan Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Properti, Hendro Gondokusumo acara ini menghadirkan berbagai narasumber. Diantaranya, Direktur Consumer Banking PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. , Budi Satria, Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk., Adrianto P Adhi, CEO Strategic Development & Services Sinar Mas Land Ishak Chandra, Komisaris Gradana, Freenyan Liwang, serta Marine Novita selaku Country Manager Rumah.com.

Acara yang digagas oleh Kamar Dagang Indonesia (Kadin) memberikan solusi dan berbagai kemudahan bagi generasi milenial untuk memliki properti.

Adrianto P Adhi menjelaskan, bahwa Summarecon punya segmen produk yang sangat luas, mulai dari high end, middle sampai dengan produk yang terjangkau dan pembelinya bisa investor atau end user.

“Kami juga punya banyak alternatif cara bayar, yang mungkin bisa sesuai dengan kemampuan daya beli kaum milenial. Selain harga yang terjangkau dan cara bayar yang pas untuk milenial, produk-produk kami juga sangat sesuai dengan tuntutan lifestyle para kaum milenial yang punya karakter simple, compact, dan tentunya modern.  Apalagi produk kami didukung fasilitas kawasan seperti shopping mall yang sangat cocok dengan kehidupan para milenial,” katanya.

Ishak Chandra juga menyampaikan, bahwa generasi milenial dapat memanfaatkan beragam variasi produk dan pembiayaan yang ditawarkan pengembang.

Menurutnya, saat ini yang perlu dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan di sector properti adalah memberikan edukasi kepada generasi milenial bahwa ketika mereka memiliki keluarga, mereka akan membutuhkan rumah. Jadi, mereka harus mulai menabung dari sekarang.

“Tinggal bagaimana generasi milenial mampu mengatur keuangannya agar sesuai dengan produk properti yang dikehendaki. Mengatur keuangan harus dilakukan sejak dini dengan mengurangi pola konsumsi yang tidak terlalu penting dan mengalihkannya untuk ditabung secara rutin,” ujar Ishak.

Selain itu, generasi milenial juga dimudahkan dalam pembiayaan properti seiring pesatnya perkembangan teknologi. Seperti yang disampaiakan oleh Freenyan Liwang. Gradana lahir dari keprihatinan atas masalah ini. Gradana memiliki konsep untuk memudahkan dan meningkatkan daya jangkau bagi masyarakat, khususnya kaum milenial.

“Kami hadir dengan dua jenis produk pembiayaan, yaitu GraDP untuk pembiayaan Down Payment dan GraSewa bagi mereka yang belum siap atau lebih menginginkan untuk menyewa dahulu untuk pembiayaan talangan sewa,” imbuhnya.

Sementara itu, Marine Novita menambahkan, berdasarkan hasil survey Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1-2018, sebanyak 63% responden mengaku berencana membeli rumah dalam enam bulan ke depan. Dari total responden yang optimistis membeli rumah, sebesar 44% berasal dari kelompok usia 21-29 tahun, atau milenial muda. Sementara 35% lainnya berasal dari milenial tua, kelompok usia 30-39 tahun.

Hasil survei tersebut menunjukkan kesadaran generasi milenial untuk memiliki hunian sendiri sudah cukup tinggi. Namun, masih ada kendala di antaranya adalah uang muka, meskipun pemerintah telah menurunkan besaran uang muka hingga tinggal 15% untuk pembelian rumah pertama dan para pengembang banyak memberikan promo. “Untuk itu, mereka perlu diberikan advokasi ataupun panduan langkah-langkah proses pembelian rumah yang benar maupun bagaimana cara menemukan hunian idaman yang tepat,” ujar Marine. (btl)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here