JAKARTA – Stigma bahwa generasi milenial enggan membeli properti kian berkembang akhir-akhir ini. Melihat Kondisi itu, Kamar Dagang Indonesia (Kadin) mengadakan acara Ngobrol Properti (NGOPI). Bertajuk “Kapan Beli Properti” acara ini diselenggarakan untuk memberikan jawaban atas problematika tersebut. Kamis, (26/4).

Bertempat di 57 Promenade, Grha Niaga Thamrin, Jakarta acara tersebut mempertemukan generasi milenial dengan para pelaku industri di bidang properti, perbankan, dan fintech serta perwakilan dari perumus kebijakan.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Properti, Hendro Gondokusumo mengatakan, melalui kegiatan ini pihaknya ingin mendengar dan berdiskusi dengan generasi milenial secara langsung terkait kendala-kendala yang dihadapi mereka dalam membeli properti. “Forum edukasi ini diharapkan dapat memberikan solusi taktis untuk membantu generasi milenial untuk memiliki dan berinvestasi properti”, katanya.

Sementara itu, menurut Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P Roesli saat ini adalah waktu yang tepat untuk membeli properti. “Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, pembangunan infrastrukstur yang intensif dan pebaikan peringkat kemudahan berbisnis memberikan harapan pada pasar properti untuk terus bertumbuh. “Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh pengembang bisnis properti untuk semakin cermat dalam melihat peluang dan membaca permintaan pasar khususnya generasi milenial yang biasanya menginginkan friendly, flexibility payment dan affordable”, ujar Rosan dalam sambutannya.

Rosan menambahkan, tantangan bagi pengembang properti adalah orientasi pengembangan harus mengarah kepada produk properti yang bisa dijangkau oleh pasar generasi milenial. Apalagi segmen ini berpotensi untuk terus tumbuh hingga sepuluh tahun mendatang sehingga berpengaruh terhadap industri ini.

Bank-bank pemberi kredit perumahan harus membuka diri agar bisa diakses oleh generasi milenial karena kemampuan generasi ini dalam membeli properti maksimal Rp1 miliar, di mana 17% di antaranya baru mampu membeli rumah dengan harga di atas Rp300juta. Hal ini karena rata-rata penghasilan mereka sebesar Rp3-6 juta, sedangkan untuk membeli rumah seharga Rp300juta, dibutuhkan income minimal Rp7,5 juta per bulan

“Diharapkan masalah generasi milenial ini bisa akomodir oleh pemerintah, sehingga bisa diterbitkan kebijakan yang mendukung generasi milenial untuk bisa memiliki properti,” pungkasnya. (ady)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here