Ilustrasi gambar maket stasiun MRT bundaran Hotel Indonesia (Istimewa-dok PT MRT Jakarta)

JAKARTA– Kehadiran MRT di Jakarta diharapkan akan mendorong perubahan kebiasaan mobilitas masyarakat urban Ibu Kota, yang selama ini lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi, menjadi Bus – MRT – Walk atau menggunakan bus, MRT, dan berjalan kaki dalam mobilitas sehari-harinya.

MRT Jakarta tidak hanya hadir sebagai salah satu pilihan alat transportasi, namun juga sebagai alat yang mampu mengubah gaya hidup masyarakat di Jakarta.

Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRT Jakarta, Agung Wicaksono, ketika menjadi salah satu pembicara dalam “Indonesia Railway Conference 2018” di Jakarta International Expo (JIEXPO) Kemayoran, Kamis (22/3) kemarin. “MRT akan mengubah gaya mobilitas masyarakat Jakarta yang sekarang dalam kondisi darurat karena kemacetan oleh kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor,” ujar Agung di hadapan sekitar 100-an peserta konferensi. “Perubahan ini tentu saja bisa terlaksana bila sinergi dan integrasi antarmoda di Jakarta bisa diwujudkan,” ujar Agung.

Selain mengampanyekan budaya menggunakan transportasi publik, Agung juga menyampaikan sejumlah perkembangan terkait rencana pengembangan MRT Jakarta fase 2. “Fase 2 akan membentang dari Sarinah di jalan MH Thamrin hingga Kampung Bandan sekitar 7,8 kilometer, dengan tujuh stasiun bawah tanah dan satu stasiun at grade/depo di Kampung Bandan,” urai Agung sambel memperlihatkan rencana trase jalur fase 2. “Saat ini, kami sedang menyiapkan penandatanganan Loan Agreement yang direncanakan pada Mei 2018, agar Agustus 2018 proses tender untuk kontraktor bisa dilakukan dan groundbreaking dapat terlaksana di Desember 2018,” lanjut Agung.

Dalam sesi tanya jawab, Kevin, salah satu peserta konferensi, melontarkan pertanyaan terkait PT MRT Jakarta yang kerap mengirim karyawannya untuk belajar di luar negeri, termasuk melakukan pelbagai kegiatan tolok ukur atau benchmark ke beberapa operator kereta api di luar negeri. Agung Wicaksono lalu menjelaskan rencana dan strategi perusahaan terkait membangun kompetensi nasional di bidang perkeretaapian. “Kami perusahaan baru yang belum punya pengalaman di bidang sistem angkutan massal perkeretaapian namun diminta untuk beroperasi dalam standar internasional yang memberikan keamanan, kenyamanan, dan keandalan dalam setiap aspeknya,” jawab Agung. “Oleh karena itu, kami harus mampu memberikan yang terbaik, baik dari segi konstruksi, penyiapan sistem, hingga pelayanan. Kami juga menerapkan sejumlah teknologi baru di Indonesia, sehingga kami harus belajar dari operator kelas dunia lainnya,” ujar ia. Bagi MRT Jakarta, Agung melanjutkan, ini adalah investasi negara untuk membangun kapasitas anak negeri di bidang teknologi perkeretaapian.

Hingga 28 Februari 2018, kemajuan pembangunan konstruksi sipil dan arsitektural MRT Jakarta fase 1 telah mencapai 91,86 persen dan menyongsong operasi komersil Maret 2019, perusahaan telah menyelesaikan 49,13 persen targetnya, yang mencakup aspek institusi dan penyediaan sumber daya manusia.

Indonesia Railway Conference 2018 adalah salah satu kegiatan dari 2nd Railway Tech Indonesia 2018 yang berlangsung pada 22 – 24 Maret 2018 lalu yang menghadirkan 250 perusahaan dari 25 negara. (dem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here