Menanti Perjuangan Dua Perempuan Indonesia Pertama di Puncak Everest

343

JAKARTA – 29 Mei 1953 adalah saat pertama kali sejarah mencatat seorang manusia berdiri di puncak Gunung Everest. Dia bernama Edmund Hillary dan Tenzing Norgay, yang satu seorang pendaki asal Amerika Serikat dan yang lainnya adalah Sherpa. Mereka dua orang manusia pertama yang pernah menginjakan kaki di titik tertinggi di dunia.

Namun, selang lebih dari dua dekade kemudian, Richard ‘Dick’ Bass dan Pat Morrow masing-masing mempopulerkan suatu rangkaian pendakian yang kemudian dikenal sebagai Seven Summits, yaitu rangkaian ekspedisi mendaki tujuh puncak gunung di tujuh lempeng benua (yang sering disalahartikan sebagai tujuh gunung tertinggi di dunia). Terlepas dari polemik gunung tertinggi di lempeng benua Australasia (yang diwakili oleh Carstensz Pyiramid di Indonesia ataukah Kosciuszko di Australia), pendakian Seven Summits adalah suatu prestasi yang membanggakan tidak hanya bagi individu yang melakukan ekspedisi, namun juga sekelompok masyarakat yang diwakili.

Namun, tahun 2011 lalu, dua kelompok pemuda, tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala UNPAR dan Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia Wanadri berhasil mematenkan nama Indonesia dalam daftar Seven Summits.

Tujuh tahun setelahnya, dua orang mahasiswi mencoba untuk mengulangi capaian itu untuk menjadi tim perempuan pertama dari Indonesia yang menyelesaikan rangkaian pendakian Seven Summits. Ekspedisi bertajuk The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU) ini sudah dimulai sejak tahun 2014 lalu. Fransiska Dimitri Inkiriwang (24) dan Mathilda Dwi Lestari (24) adalah dua pendaki di tim ini. Puncak Carstensz Pyramid dengan tinggi 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl) di Papua adalah puncak pertama tempat bendera Merah Putih yang mereka bawa, dikibarkan.

Dalam waktu dua tahun, tiga puncak gunung di tiga lempeng benua menyusul menjadi tempat bendera
Indonesia berkibar. Berturut-turut Puncak Gunung Elbrus (5.642 mdpl) di Rusia, Gunung Kilimanjaro (5.895 mdpl) di Tanzania, dan Gunung Aconcagua (6.962 mdpl) di Argentina menjadi saksi pengibaran bendera Indonesia oleh Fransiska dan Mathilda.

Sejak saat itu, ekspedisi justru semakin menantang. Meski begitu, mereka berhasil membawa Merah Putih ke puncak Vinson Massif dengan suhu ekstrem mencapai -40 derajat Celcius di Antartika, dan ke puncak gunung dengan jalur tidak kalah ekstrem di Alaska, yaitu Gunung Denali.

Akhirnya, rangkaian pendakian panjang ini akan menemui puncaknya dengan perjalanan menuju puncak Gunung Everest di jajaran Pegunungan Himalaya, yang akan mereka mulai pada Kamis (29/3) mendatang.

Harapan besar ada di pundak dua perempuan tangguh ini. Momen suka dan duka dalam misi membawa
perempuan Indonesia ke Atap Dunia akan mencapai klimaksnya dalam pendakian kali ini.
Segala bentuk dukungan baik material maupun moril sangat diharapkan, karena sekali lagi, Fransiska dan Mathilda akan mempertaruhkan nyawanya demi prestasi yang membawa nama Ibu Pertiwi. (dem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here