JAKARTA– Perusahaan otomotif, PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih senilai Rp18,9 triliun sepanjang 2017, naik 25 persen dari capaian 2016 sebesar Rp15,15 triliun.

Tercatat bisnis otomotif menjadi penyumbang terbesar laba bersih Astra tahun lalu, yakni sebesar Rp8,86 triliun, atau 47 persen. Disusul segmen bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi mencapai Rp4,46 triliun, serta jasa keuangan sebesar Rp3,75 triliun.

Selain itu, laba bersih dari segmen agribisnis menyumbang Rp1,60 triliun, properti Rp223 miliar, dan teknologi informasi senilai Rp198 miliar. Sebaliknya, segmen bisnis infrastruktur dan logistik tercatat merugi Rp231 miliar.

“Setelah mencetak kinerja yang baik pada 2017, kami berharap dapat terus diuntungkan dari membaiknya kondisi ekonomi, serta stabilnya harga komoditas,” kata Presiden Direktur Astra International Prijono Sugiarto yang dikutip dari siaran pers, Selasa (27/2).

Dari tujuh segmen bisnis yang dimiliki Astra, tiga di antaranya mencatatkan pertumbuhan kinerja laba bersih yang positif, yakni jasa keuangan, alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, dan properti.

Untuk jasa keuangan, Astra mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 376 persen, dari Rp789 miliar, menjadi Rp3,75 triliun. Segmen ini menjadi segmen paling moncer ketimbang segmen bisnis Astra lainnya.

Kenaikan laba bersih jasa keuangan antara lain didorong dari membaiknya profitabilitas Bank Permata, dan kenaikan kontribusi dari PT Federal International Finance (FIF), PT Astra Sedaya Finance (ASF), dan PT Asuransi Astra Buana (AAB).

Dari segmen bisnis alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, Astra meraup laba bersih senilai Rp4,46 triliun, naik 47 persen dari capaian 2016. Kenaikan kontribusi segmen tersebut didorong dari harga batubara yang menguat.

Laba bersih dari divisi properti Astra mengalami kenaikan hingga 101 persen menjadi Rp223 miliar. Sebagian besar peningkatan laba bersih tersebut didorong dari proyek Anandamaya Residences.

Rencananya, proyek perumahan itu rampung pada 2018. Di lain pihak, sumbangan laba bersih dari divisi otomotif justru turun 3 persen menjadi Rp8,9 triliun.

Persaingan yang semakin ketat dinilai menjadi penyebab berkurangnya kinerja divisi otomotif Astra. Penjualan mobil Astra sepanjang 2017 mencapai 579.000 unit, melorot 2 persen dari tahun sebelumnya.

Berbanding terbalik, penjualan motor Astra bertahan pada 4,4 juta unit dengan pangsa pasar yang meningkat, dari 74 persen menjadi 75 persen.

Namun kendati penjualan kendaraan bermotor turun, Astra masih menorehkan kinerja positif dari penjualan komponen. Salah satunya lewat PT Astra Otoparts membukukan laba bersih Rp551 miliar, naik 32 persen dari capaian laba bersih 2016. (rls/dem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here