Pak Sajum, Asa Menjaga Semangat Menjahit Kehidupan dengan Segala Keterbatasan

273

TANGERANG- “Setelah kecelakaan kereta, saya sering dihina katanya saya tidak bisa apa-apa”, lirih Bapak Sajum (76), sambil mengingat awal mula rintisan nasibnya sejak 35 tahun silam.

Beliau kehilangan kaki kirinya (dari lutut ke bawah) dan menggunakan satu tongkat kayu sebagai pijakan dalam sederhana kesehariannya.

Kini, dengan keterbatasan fisik yang dimiliki, menjahit adalah pilihan dan keterampilan terbaik bagi beliau untuk dijalani hingga kini.

Sebelumnya ia bekerja sebagai pendayung perahu di sungai, petugas parkir jalanan, hingga menjadi pedagang asongan. Uang hasil kerja kerasnya ia kumpulkan sedikit demi sedikit sebagai modal belajar menjahit. Beliau juga menjual gerobak dagangan asongannya untuk modal membeli mesin jahit bekas untuk memulai pekerjaannya.

Berada di dalam sisi gang yang sempit di Pasar Lama Tangerang, Desa Sukarasa, ditemuinya tim Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) Dompet Dhuafa pada Sabtu (6/1) dalam kesempatan penyerahan donasi mesin jahit program disabilitas dan dekorasi kios.

Bersama istrinya yang mendampingi, Sajum menaruh banyak harapan di ruang karya yang hanya memiliki ukuran lebar 2×1 meter dengan tinggi 2,5 meter. Mereka melayani pelanggan untuk jahit vermak ukuran, jahit resleting, atau memasang kancing. “Alhamdulillah sekali istri saya juga bisa”, tegas beliau hingga tiga kali mengucap hal yang sama.

Apa adanya adalah gaya Sajum. Beliau tidak mau memaksa atau menagih bila ada pelanggan yang belum membayar ongkos jahitnya, “Mungkin lupa atau belum ada uang, yang penting hubungan baik tetap dijaga, soal rezeki Allah sudah mengaturnya” tuturnya.

Namun, usianya yang tidak lagi muda, tidak menuakan rasa semangatnya untuk menikmati hidup. Kondisi fisiknya yang tidak lagi bugar, tidak melemahkan perjuangannya melanjutkan hidup. “Saya tidak mau hidup hanya sekedar mengadahkan tangan saja. Saya bisa, saya mau kita harus bermanfaat untuk sekitar”, tutur Sajum.

Setelah itu Sajum langsung duduk menghampiri dan mencoba ‘bermain’ dengan rincian kecil mesin jahit baru yang tidak lagi kropos mejanya. Tidak lama kemudian ia berusaha bangun dari tempat duduknya dan berkata, “Mohon maaf sekali, sudah hampir waktu zuhur ini (sambil menunjuk arloji tua nya), saya harus ke Masjid dulu ya”. Kemudian Sajum mengambil tongkat kayunya dan berjalan tertatih meninggalkan kiosnya. (adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here