Satgas Waspada Investasi Gencar Sosialisasi dan Tindakan

97

SOLO – Kinerja satgas waspada investasi semakin gencar. Sampai saat ini sudah banyak perusahaan investasi ilegal yang berhasil ditangkap oleh satgas waspada investasi bersama dengan pihak hukum.

Tidak hanya sekedar sosialisasi, satgas waspada investasi juga melakukan tindakan terhadap perusahaan investasi ilegal.

Kepala Otoritas Jasa keuangan (OJK) Solo, Laksono Dwi Onggo menjelaskan beberapa tugas satgas waspada investasi, salah satunya percepatan proses penegakan hukum terhadap praktek investasi ilegal yang banyak terjadi di masyarakat, khususnya daerah.

Dia menyebutkan, tahun ink OJK dan satgas waspada investasi sudah melakukan banyak penghentian perusahaan investasi, yaitu sebanyak 26 perusahaan investasi ilegal. “Dari 26 perusahaan tersebut, untuk Kota Solo dan sekitarnya adalah UN Swissindo dan Koperasi Pandawa yang sudah tertangani. Namun kami tetap memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan memantau langsung jika ada perusahaan investasi yang baru di Solo dan sekitarnya. Daerah ini banyak disasar oleh perusahaan-perusahaan serupa, karena mungkin pemahaman masyarakatnya yang kurang mengenai investasi,” jelas Laksono, Senin (16/10) lalu.

Dihimpun dalam data OJK tercatat 118 perusahaan yang tidak terdaftar dan tidak di bawah pengawasan OJK. Selain itu terindikasi ilegal  dan salah satunya beralamat di Solo, yaitu perusahaan Ruame, Laweyan, Surakarta dengan jenis investasi uang.

Untuk kinerja perbankan, mengalami beberapa kenaikan yang cukup positif. Untuk bank umum secara keseluruhan, hingga posisi Agustus 2017 untuk total aset naik 10,05 persen menjadi Rp80,57 triliun sedangkan dibandingkan year to date (ytd) naik 4,6 persen. Kemudian untuk kredit tumbuh 9,63 persen menjadi Rp68,91 triliun, serta untuk dana pihak ketiga (dpk) tumbuh 6,34 persen menjadi Rp60,19 triliun.

Untuk BPR baik konvensional maupun syariah juga mengalami kenaikan. Aset tumbuh sebesar 14,76 persen menjadi 5,93 triliun, kemudian untuk ytd tumbuh 9,05 persen. Untuk kredit tumbuh sebesar 10,08 persen menjadi Rp4,49 triliun, serta untuk dpk tumbuh 15,1 persen menjadi Rp4,32 triliun. (cha/dem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here