KA Ekonomi Alami KenaikanTarif

276

SOLO – Tarif kereta api (KA) jarak sedang dan jarak jauh mengalami kenaikan mulai 1 Januari 2018. Layanan penjualan tiket untuk keberangkatan tersebut sudah dapat dilakukan mulai 2 November 2017.

Corporate Communications Manager PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasional (Daops) VI/Yogyakarta, Eko Budiyanto mengungkapkan, penyesuaian tarif tersebut berdasarkan Peraturan Menteri (PM) Perhubungan No.42/2017 tentang Perubahan Kedua atas PM Perhubungan No. 35/2016 tentang Tarif Angkutan Orang dengan Kereta Api Pelayanan Kelas Eonomi untuk Melaksanakan Kewajiban Pelayanan Publik (PSO).

PM No. 42/2017 tersebut seharusnya berlaku pada 7 Juli lalu tapi atas instruksi pemerintah, akhirnya baru diterapkan mulai awal tahun depan. Tercatat secara nasional ada 20 rute perjalanan KA yang mengalami penyesuaian tarif beragam, mulai dari Rp1.000 hingga Rp16 ribu. Penjualan tiket keberangkatan 1 Januari 2018 tersebut baru mulai dilayani 2 November mendatang. “Untuk Daops VI yang mengalami penyesuaian tarif adalah KA Bengawan rute Stasiun Purwosari-Stasiun Pasar Senen dari Rp74 ribu menjadi Rp80 ribu dan KA Sri Tanjung rute Stasiun Lempuyangan-Stasiun Banyuwangi dari Rp94 ribu menjadi Rp110 ribu,” ungkap Eko kepada wartawan, Selasa (3/10).

Dijelaskan, kenaikan tarif KA tersebut ditentukan oleh pemerintah karena public service obligation (PSO) merupakan kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, PT KAI hanya tinggal melaksanakan aturan tersebut. “Setiap tahunnya nilai PSO dari pemerintah selalu naik, tapi karena biaya operasional kereta mengalami kenaikan sehingga ada penyesuaian tarif mengingat selisih tarif sebenarnya dengan tarif yang ditetapkan untuk masyarakat ditanggung pemerintah,” jelasnya.

Sementara itu, sosialisasi penyesuaian tarif ke masyarakat akan terus dilakukan. Hal tersebut juga menjadi salah satu alasan penjualan tiket KA jarak jauh yang biasanya dilayani 90 hari sebelum keberangkatan menjadi 60 hari sebelum keberangkatan karena waktu sebulan ini digunakan untuk sosialisasi ke masyarakat.

Ditambahkan, biasanya penjualan KA jarak jauh banyak diburu sebulan sebelum berangkat sehingga dinilai tidak akan ada menganggu pelayanan penjualan tiket. Masyarakat pun tetap masih bisa mendapatkan tiket di loket stasiun, aplikasi, dan channel external. “Kenaikan tarif ini tidak terlalu tinggi sehingga tidak akan berpengaruh terhadap minat masyarakat untuk menggunakan moda transportasi KA. Oleh karena itu, load factor [tingkat keterisian-red] KA tetap tinggi. Sebelumnya setiap KA Ekonomi memberikan okupansi 95 persen setiap harinya,” pungkasnya.

Sementara itu, terkait tiket KA lokal, seperti KA Prameks, KA Kalijaga, dan Railbus Batara Kresna masih sama. Hal ini karena dalam PM Perhubungan yang baru hanya KA jarak jauh yang disebut mengalami perubahan. (cha/dem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here