Ekspor Batik Nasional Terus Meningkat, Capai 42.708 Kilogram

246

SOLO – Kegiatan ekspor batik di Kota Solo dan sekitarnya cukup fluktuatif.

Kepala Seksi Perdagangan Luar Negeri Dinas Perdagangan Kota Surakarta, Endang K Maharani mengatakan tahun ini trend ekspor batik mengalami kenaikan. Meski dari tahun ke tahun cukup dinamis naik dan turun, namun Endang optimis tahun ini lebih baik dari 2016. Bahkan hingga Agustus 2017, ekspor batik bisa mencapai 42.708 kilogram. “Sebelumnya di Juli ekspor batik sebanyak 33.888 kilogram dalam volume pengirimannya, dan di Juni sebanyak 19. 967 kilogram. Untuk saat ini trend batik masih memenuhi pasar tradisional, namun untuk negara Australia, Singapura, dan pasar Asia lainnya juga ada meski tidak banyak. Pasar masih dipegang Amerika, Eropa, Kanada, dan merambah ke Arab,” jelas Endang kepada wartawan, kemarin (2/10).

Sementara itu Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta, Subagyo mengungkapkan dengan adanya pengakuan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 lalu, menjadikan salah satu faktor pasar ekspor batik semakin menunjukkan kemajuan. Pasalnya pengakuan tersebut turut mendongkrak popularitas batik dan kesadaran masyarakat untuk memiliki batik. Industri Kecil dan Menengah batik pun ikut tumbuh subur.

Untuk semakinmeningkatkan ekspor batik, kedepan akan ada kerja sama dengan pelaku ekspor, maupun pelaku UMKM Batik. Selain itu melakukan pelatihan dan pendampingan UMKM untuk ekspor serta mendapatkan buyer. Selain melakukan penetrasi ke wilayah ekspornya, pengembangan permintaan pasar akan produk pun mulai beragam, sebelumnya hanya kainnya saja namun semakin kesini produk – produk turunan batik seperti fashion batik, dekorasi batik, pernik batik, dan lainnya mulai laku dipasar ekspor. Sedangkan untuk coraknya saat ini masih batik cap dan printing yang banyak diminta buyer, karena tidak memakan waktu yang lama.

Salah satu eksportir batik Umi Isticharoh dari CV. Aggreani mengatakan sejak menjajaki pasar ekspor tiga tahun lalu sampai dengan saat ini mengalami perkembangan yang signifikan. Pihaknya mengatakan saat ini pasar Kanada menjadi negara tujuan ekspornya. Setiap  2 bulan sekali pihaknya melakukan ekspor batik sebanyak 30 ribu yard.  “Dipasar ekspor, batik jenis cap dan jumput menjadi permintaan besar para buyer, kalau batik tulis malah jarang karena selain harganya mahal, waktu produksinya pun lama, sedangkan para buyer butuh yang cepat dengan jumlah barang yang banyak,” tutupnya. (cha/dem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here