TANGERANG– Berawal cintanya terhadap produk lokal, dan berniat memasarkan ke international market, membuat sepasang suami istri bernama Riza Assegaf dan Fara Shahab asal Ciledug, Kota Tangerang, Banten memperkenalkan produk tas kulit asli buatannya ke mancanegara.

Siapa sangka, dari niat dan kecintaannya itu produk tas berlebel Doris Dorothea yang diproduksinya sejak tahun 2013 lalu, kini menjadi salah satu brand ternama yang digandrungi masyarakat di luar negeri.

Lewat kepopuleran Doris Dorothea, pasangan suami istri ini mengaku mampu memproduksi dalam jumlah besar untuk di ekspor ke sejumlah negara Timur Tengah di antaranya Arab Saudi, Qatar, Quwait, Bahrain, Oman dan lainnya. Termasuk permintaan di negara Eropa seperti Inggris dan juga Milan, Italia.

Mencapai kesuksesan tersebut, pemilik merek Doris Dorothea Fara Shahab bercerita. Dimana awal usahanya itu, dimulai dari meneruskan  usaha kulit yang dimiliki ayah dari Riza Assegaf (suami) sejak tahun 1985 bernama Cardina.
Perusahaan tersebut mensuplai kulit dan barang jadi berupa tas ke berbagai merek di sejumlah negara Eropa dan Amerika. Dari hal tersebut, lantas perempuan berhijab ini memiliki pemikiran, kenapa tidak membuat brand lokal sendiri. Terlebih bahan baku kulit yang digunakan juga sudah terbukti kualitasnya karena dipakai oleh sejumlah merek terkenal di luar negeri. “Dari sinilah saya bersama suami berpikir untuk menerjuni bisnis ini lebih dalam dengan membuat produksi tas dengan merek sendiri. Dan munculah nama Doris Dorothea yang kami ambil dari bahasa Yunani yang penuh dengan gaya klasik, namun juga eksotik untuk mengimagekan tas yang kami produksi,” kata Fara saat dikonfirmasi melalui sambungan telpon, Senin (28/8).

Tak sampai disitu, dalam perjalanan bisnisnya itu, banyak halangan yang cukup berarti dihadapi kedua pasangan suami istri ini. Salah satunya banyak orang yang nyinyir dengan ide dan brand tas yang dibuatnya itu. Namun, semuanya diambil secara positif sebagai semangat Fara untuk terus menjadikan merek Doris Dorothea menjadi to be international brand.
Dan sekarang, usahanya tersebut berhasil manis. Fara Shahab mengaku mampu memproduksi sekitar 200 tas setiap satu Minggu. Dengan harga jual dibanderol mulai 650 USD hingga 2000 USD, dan omzet sekitar ratusan juta rupiah.
Fara sedikit bercerita, seluruh proses produksi tasnya itu dilakukan di Indonesia, termasuk bahan baku kulit reptil asli berkualitas terbaik yang di dapat dan disahkan oleh Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora Liar (CITES). Dalam produksinya tersebut, Fara juga dibantu oleh sejumlah pengarjin lokal yang memang ahli di bidang tersebut.

Desain yang dibuatnya juga terus mengikuti perkembangan zaman dan keinginan konsumen. Dengan terus menekankan kualitas dan mode terbaik. Selain membuat tas kulit, merek Doris Dorothea juga memproduksi sejumlah aksesoris, seperti scraft, ikat pinggang dan juga dompet. “Kepuasan pelanggan adalah tujuan utama kami. Untuk itu,  kami selalu memastikan dan menggunakan bahan baku dengan kualitas terbaik. Proses quality control dalam berbagai tahapan produksi, juga menjadi hal yang selalu dikedepankan untuk memastikan pelanggan mendapatkan kualitas terbaik,” ujarnya.

Sementara itu, Doris Dorothea juga telah mengikuti berbagai macam pameran dan fashion show untuk Luxury Brand yang sifatnya private di sejumlah negara tersebut. Selain itu, produk ini juga sukses menjadi brand tas kulit exotic yang paling dicari di Timur Tengah, dan telah bekerjasama dengan banyak Multi Brand Boutique dan Departement Store di Eropa. (dem)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here